Wednesday, 26 March 2014

Dian dan mimpi-mimpi

Saya dan mimpi-mimpi seperti tak kan pernah terpisah, ini tentang mimpi bukan impian, setiap tidur selalu saja dipenuhi mimpi-mimpi, bahkan ketika memejamkan mata hanya beberapa menit tetap saja diliputi mimpi.

Begitu bangun dari tidur selalu memikirkan, 
"tadi mimpinya tentang apa ya?"
"tadi mimpiin siapa ya?"

Ketika bermimpi tentang seseorang, sering kali karena sedang merindukan seseorang tersebut, tapi terkadang juga, memimpikan orang-orang yang bahkan tak terpikirkan sekalipun. 

Bukan hanya itu, berkali kali juga merasakan De Javu dalam kehidupan realitas, selalu merasa pernah mengalami suatu kejadian yang sama persis, dan di dalam hati selalu berkata "kayaknya pernah ngalamini kejadian persis sama sebelumnya" dan itu selalu di dalam mimpi.

Hanya sedikit khawatir, jika suatu saat nanti tak bisa membedakan mimpi dan kenyataan, tak lagi ada batas, tak ada lagi penghalang, semoga saja takkan pernah terjadi.


Friday, 21 March 2014

Dian dan Makan-Makan

Hei hei..
Lama banget blog ini nggak keurus, maaf kan saya yang sementara berpaling kerumah yang lain hehe,, kali ini balik lagi..

Sebenernya udah dari kapan-kapan mau nulis tentang ini, tapi karena malesnya lagi kumat ya nggak jadi jadi, Baiklah kali ini saya akan membahas tentang makanan (jadi laperrrr,, )

Salah satu hobi saya itu adalah makan, walaupun badannya segitu-gitu aja tapi emang suka makan terutama menu-menu baru yang baru di denger, suka banget penasaran sama makanan, dan juga kalau seandainya makanan itu enak pasti, suatu waktu pengen makan lagi. Saya sering banget ngidam (bukan ngidamnya Bumil ya, kan saya belum nikah :p ) makanan tiba-tiba, kayak beberapa hari yang lalu, pengen banget makan telur asin, sehari, dua hari masih kepikiran karena belum kesampean, akhirnya nanya mbak2 yg jual sarapan di Simpang Dam ehh ternyata ada, senengnya klo kepengenan kesampean hehe..

Saya itu juga nggak bisa lepas dari makanan pedes, makan tanpa sambel itu berasa makan sayur tanpa garam, cieelah :D walaupun sebenernya lambung nggak pernah bisa terima makanan pedes karena saya punya sakit magh tapi mau gimana lagi, namanya juga udah hobi, "perut selalu kalah dengan mulut" mungkin kalau si perut bisa ngomong, udah marah-marah dan ngomel-ngomel kali ya sama si mulut yang selalu makan pedes.

Baiklah kita mulai dari makan yang deket dulu ya..

FoodCourd Plaza Batamindo

Karena saya kerjanya di kawasan batamindo jadi salah satu tempat makan yang paling deket ya Foodcourd Plaza ini, banyak banget stan makanan yang ada di sini, tinggal pilih aja mau makan apa, tapi seringnya karena udah tiap hari makan disini, sering bingung, mau makan apa. saya recoment beberapa makanan yang jadi favorit di tempat ini ya

Ayam Sambel Ijo "Moro Mampir"




Menurut saya, rasanya masakan rumahan banget, pedesnya juga pas di lidah saya yang suka makan pedes ini,  jadi kalau lagi bingung mau makan apa, ya ujung-ujungnya pasti milih makanan  ini.

Ati Ampela sambel Gledek dan Nasi goreng sambel Gledek "Waroeng Inong"

Selain karena saya memang suka makan Ati Ampela, di sini sambel Gledeknya juga nampol banget karena sambelnya ini dari cabe rawit. 


Tekwan dan Pindang Ayam  " Regita"



Letaknya paling kanan dari foodcourd. Klo jam 12an, selalu rame dan kita harus ngambil makanan sendiri kalau disini. Tekwannya lumayan lah kalau buat tiba-tiba pengen makan tekwan, tapi tetep tekwan yang paling enak itu buatannya mama temen (pernah makan waktu lebaran) hehe..

Pindang ayam nya juga enak, apalagi di tambah dengan sambel mangganya yang seger, selain pindang ayam juga ada pindang ikan, dan pindang tulang.


Foodcourd Panbil lantai 3

Biasanya kesini kalau lagi nggak minat makan di Plaza, dan lagi pengen makan makanan yang pedes banget.

Ayam Bakar Taliwang


Disini selain harganya lumayan terjangkau, sambel dari ayam bakarnya pun enak banget, ada tiga pilihan rasa, manis, pedes manis dan pedes banget, ya kalau saya pasti selalu milih pedes banget, selain sambel yang ada di ayam bakarnya, kita juga di kasih sambel pendamping yang pedes juga. Ini salah satu makan yang saya suka karena pedesnya

Ayam Geprek "Warung Pojok"


Cabe yang digunakan untuk menu ini adalah cabe setan (cabe rawit merah) yang sudah jelas pedes banget, biasanya kalau makan disini, minta cabenya yang pedes banget 6-8 biji cabe, dan klo makan telinga berasa berasap gitu kayak film2 kartun hehe.. tapi tetep bikin ketagihan...

Mega Mal

Tomyam Seafood "Empek-empek Kolekta "


Nanya sama temen yang udah pernah nyicip langsung tomyam dari negara asalnya, "kak tomyam mana di Batam yang rasanya paling mendekati rasa asli Thailan?" si kakak jawab "yang di empek-empek kolekta mega mal dek, rasanya hampir mendekati". Dan ternyata rasanya enak dan seger nggak kayak sebelumnya yang pernah saya cicip di tempat lain. 

Mie Tarempa 


ini udah pernah di bahas di post yang lalu, langsung buka linknya aja ya :)


Ayam sambel ijo "Podomoro"


Orang Batam yang pecinta pedas pasti tau makanan yang satu ini, udah terkenal banget kayaknya, letaknya bukan di restoran mewah atau mal tapi cuma di warung pinggiran jalan yang bahkan kalau sore sampe ngambil separoh bagian jalan untuk meletakkan meja dan kursinya. Letaknya di kawasan Nagoya, di seberang jalan Holland Bakery di samping gedung Artha Graha kalau nggak salah. Makan disini selalu antri paling nggak kita harus nunggu setengah jam sampai makanannya terhidang di depan meja. Yang membuat makana ini di gemari ya karna pedesnya itu, bisa di bilang makanan  yang paling pedes yang pernah saya makan, tapi ya selalu bikin nagih lagi dan lagi, harganya juga murah banget. Katanya si ayam Podomoronya udah buka cabang di Batu Aji dan Tiban, tapi belum pernah nyoba yang di sana dimana persisnya juga kurang tahu. 


Kebanyakan makanan pedes, harap maklum saya "padeh lover" hehe..
Sebenernya masih banyak yang lainnya, tapi di post berikutnya aja deh  :)

Wednesday, 26 February 2014

Rumah Baru

Nggak berasa udah di penghujung Februari, dan ini baru tulisan pertama di bulan ini, maaf jika perhatian beralih sejenak, bukan untuk pergi hanya untuk berbagi di tempat lain. Tak ingin membanding bandingkan antara rumah ini dan rumah baru, tapi untuk saat ini berada di rumah baru lebih terasa nyaman. Mungkin nanti dua rumah ini akan jalan beriringan tapi itu nanti. Silahkan berkunjung kerumah baru :)

http://dianayankk.tumblr.com/ 

Thursday, 30 January 2014

Puzzle Kehidupan

Setiap orang di kehidupan saya itu ibarat sekeping Puzzle, dan kehidupan saya adalah gambar utuhnya. Jika satu saja kepingan puzzle itu tak ada maka gambar kehidupan saya takkan utuh. Siapapun orang tersebut yang pernah ada di kehidupan saya baik yang lama tinggal atau hanya mampir sebentar, mereka tetap menjadi bagian dari cerita kehidupan. Ada yang memberi bahagia, tawa, canda, persahabatan, kasih sayang ada juga yang memberi luka, dan air mata tapi bagaimanapun mereka tetap bagian terpenting dalam kehidupan karena setiap yang saya hadapi membuat saya mendewasa dari waktu ke waktu.

Begitupun saya bagi kehidupan seseorang, saya adalah sekeping puzzle yang mengutuhkan kehidupan mereka, ketika saya datang dan bertahan di samping mereka maupun saya singgah dan kemudian pergi, saya tetaplah bagian dari cerita yang melengkapi kehidupan seseorang tersebut.

Mungkin nanti belasan tahun dari sekarang  ketika seseorang mengingat dan mengenang tentang saya dan kemudian berkata "aku benci dengannya, kenapa aku harus dipertemukan dengannya", atau "aku merindukannnya, lama kami tak bersua" atau ada yang berkata "aku mencintainya, tapi sayang cintaku tak terbalas" atau "aku berbahagia untuknya" atau "dia sahabatku dan aku menyayanginya" dan ungkapan-ungkapan yang lainnya.

Apapun itu kenangan tentang saya, begitulah saya apa adanya, terima kasih untuk semua yang pernah menjadi kepingan puzzle dalam kehidupan saya, tanpa kalian kehidupan seorang Dian Fernanda tak kan pernah utuh.

Terima kasih sahabat
Terima kasih untuk semua

Love you
:)

Wednesday, 22 January 2014

Bila ku jatuh Hati

Rabbi, bila ku jatuh hati
ku ingin terbang tinggi
hingga syaitan tak menghampiri

Rabbi, bila ku jatuh hati
ku ingin terbang cepat
hingga syaitan tak sanggup hinggap



By: Salim A Fillah

Monday, 20 January 2014

Menatap Punggung Muhammad


Dalam Buku ini ada potongan puisi yang dibuat oleh Johan Wolfgang Van Goethe (1749-1832) filsuf dan penyair besar asal Jerman seorang non muslim tentang sosok manusia Agung Nabi Muhammad SAW

banyak bintang yang berkelip-kelip
ada bulan yang bercahaya lembut
ada dian yang menerangi pondok petani
kilau lampu-lampu listrik di tengah kota
namun hanya satu matahari
cahaya di atas cahaya
dialah Muhammad
mahapemimpin
mahamanusia

Buku ini membuat saya banjir air mata ketika membacanya, kita di ajak mengenal Rosulullah dengan sudut pandang yang berbeda, dari sudut pandang seorang non muslim yang mencari tau tentang Siapa Muhammad? 
Dalam buku ini kita jadi tau akhlak Rosulullah yang luar biasa, keteladanan dalam kebaikan.

"Apakah yang lebih utama dan lebih penting dari pada iman?
ialah Ihsan / Kebaikan"


Monday, 13 January 2014

Maya

Seperti sabtu pagi biasanya, aku sudah melangkahkan kaki keluar kamar kos menuju Mesjid yang tak seberapa jauh dari kamar kos mungil milikku. Pagi ini suasananya sungguh menentramkan, matahari pagi yang tak terlalu menyengat, awan berarak meneduhkan serta angin sepoi menyapu kulit. sabtu adalah jadwalku dan saudari-saudari lain untuk "melingkar", aku lebih suka menyebutnya begitu. 

Setibanya di mesjid aku menuju beranda pojok tempat kami selalu melingkar, tapi ternyata disana belum ada sesiapa, aku duduk bersila disana dan mengeluarkan mushaf kecilku, ada yang belum tuntas aku kerjakan pagi ini yaitu mengkhatamkan 1 juz bacaan tilawahku, jadi aku menunggu saudari-saudari yang lain datang sembari tilawah.

Di pojok lain beranda mesjid aku melihat seorang ibu memakai gamis berwarna coklat dengan kerudung senada, entah mengapa aku merasa di perhatikannya sedari tadi, apakah ada yang aneh denganku? tanyaku dalam hati. Aku beranikan menatap balik wajahnya dan melemparkan seulas senyum, ia pun membalas senyumku. Kemudian dia berdiri dan mendekatiku sembari mengucap salam

"Assalamualaikum dik"

"Waalaikumusalam warahmatullah ibu" dia pun duduk di sampingku dan menjabat tanganku, mencium pipi kiri dan kananku kemudian memelukku erat, lama sekali. Aku heran dengan tingkah ibu ini, apa yang membuat ia berlaku demikian, dan ternyata si ibu yang masih memelukku ini, sedang terisak, ia menangis, tapi entah kenapa. Aku beranikan diri untuk bertanya " ibu kenapa? apa baik-baik saja? tanyaku cemas.

"duh maaf dek, tak seharusnya saya seperti ini" ibu itu berkata sambil melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya. "boleh saya tau nama adik siapa?" tanyanya kemudian.

"nama saya Laila bu, Laila Febrina, nama ibu siapa?" ujuarku mengenalkan diri

"Saya Aminah, ibu aminah", jawabnya sambil tersenyum, " kamu tinggal dimana? asli orang sini? kerja atau kuliah?" tanyanya beruntun

aku pun tersenyum "saya tinggal di sekitaran mesjid sini bu, nggak jauh cuma lima menit jalan kaki, saya bukan asli sini, saya dari Batam, saya baru pindah kerja kesini, belum dua bulan" jawabku.

"owh gitu, saya kira kamu asli orang sini, maaf kalau saya membuat kamu heran dan kaget dik, pasti kamu bertanya-tanya kenapa saya memeluk kamu dan mengangis, kamu mirip sekali dengan adik saya, mirip sekali". dia mengeluarkan telpon genggamnya.

"masa si buk? mungkin adik ibu salah satu dari tujuh kembaran saya di dunia" jawabku sambil bercanda.

ia pun memperlihatkan sebuah foto padaku, ada seorang perempuan berkerudung, bermata sipit, dan berkacamata di foto itu, dan ternyata benar, mirip sekali denganku, tapi yang di foto lebih cantik. aku tak bisa berkata apa-apa.

"mirip sekali bukan? namanya Maya, usianya sepantaran kamu, dulu dia kuliah di ITB jurusan teknik mesin, walaupun wajahnya terlihat feminim, dia sangat tomboy" bu aminah mulai menceritakan tentang adiknya itu. "dia sangat aktif dan ceria, siapa saja yang berada di dekatnya akan sangat senang, saya sangat menyayanginya".

"sekarang dia dimana bu?" tanyaku, penasaran saja ingin bertemu langsung, pasti seru bisa bertemu langsung dengan seseorang yang wajahnya mirip dengan kita.

Bu aminah tersenyum getir "dia meninggal satu tahun lalu, karna radang selaput otak yang di deritanya, ternyata dia sudah lama menyimpan sakitnya itu sendiri, kami sekeluarga tak ada yang tahu tenntang penyakitnya. Makanya begitu melihat kamu masuk tadi, saya langsung teringat dengan adik saya maya, saya sangat rindu bertemu dengannya".

"Aduh maaf buk, saya tak bermaksud membuat ibu bersedih" aku tak tau harus berucap apa lagi

"nggak kok, kamu nggak salah apa-apa, malah saya seneng banget bisa ketemu kamu, rindu saya terobati, boleh saya menganggap kamu adik saya, maaf mungkin ini terdengar lancang, karna kita baru saja bertemu, tapi entah mengapa begitu melihat kamu, saya langsung jatuh sayang dik" ucap bu aminah tulus.

"dengan senang hati bu, senang bisa punya keluarga baru di tanah rantau" jawabku senang.

Membuat Kimchi rumahan

Sebagai salah satu penggemar Kimchi makanan Korea, yang dulu sampai bela-belain beli di salah satu restoran korea di bandung dan dipaketin ...